Refleksi

Paulus Berdoa

Doa Pelayan Buat Jemaat-Nya

Selamat pagi,
Apa kira-kira doa Pendeta/Gembala serta Penatua/Diaken terhadap jemaatnya? Agar mereka diberkati? Agar mereka sehat-sehat saja? Agar mereka diberi pekerjaan yang baik? Diberi jodoh (bagi yang belum kalau yang sudah yah tahu diri lah)? Diberi solusi bila sedang menghadapi masalah? Rasanya semua telah dikerjakan oleh para pendeta di GKO.

Cuma pagi ini ada yang bagus untuk kita renungkan bersama dan saya sudah praktekkan mulai pagi ini yaitu menggunakan doa Paulus dalam Efesus 3:14-21 yang bunyinya:

14 Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa,
15 yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam sorga dan di atas bumi menerima namanya.
16 Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,
17 sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.
18 Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.
20 Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita,3:21 bagi Dialah kemuliaan di dalam jemaat dan di dalam Kristus Yesus turun-temurun sampai selama-lamanya. Amin.

Menurut saudara ada berapa pokok doa Paulus dalam perikop ini? Tiga! Yah benar ada 3 apa saja itu?

Pertama, Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Kedua, Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.

Ketiga, Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Dalam doksologinya Paulus mengakui bahwa Allah dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan. Amin!

Bagaimana kalau ketiga doa di atas dipersonalisasikan ke dalam doa kita terhadap jemaat dan doa jemaat terhadap pelayan sehingga menjadi demikian, contoh saya pakai GKO Bintaro Jaya:

Pertama, Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan Jemaat GKO Bintaro Jaya oleh Roh-Nya di dalam batin mereka, sehingga oleh iman mereka Kristus diam di dalam hati mereka dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih.

Kedua, Aku berdoa, supaya Jemaat GKO Bintaro Jaya bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan.

Ketiga, Aku berdoa, supaya Jemaat GKO Bintaro Jaya dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.

Kata-kata Jemaat GKO Bintaro Jaya dapat kita ganti dengan nama jemaat lain sesuai tempat penugasan masing-masing atau menggantinya dengan nama pelayan mis: Pdt. Silat Lidah, atau Pnt. Cah Bodho, atau Dkn. Pinter Keblinger misalnya. Biarlah kita tidak hanya paham maknanya tetapi juga mempraktekan firman Allah.

Pdt. Daniel Zacharias, MTh

—————————————————————————————–

 Membangun Hubungan Yang Hancur!

Ketika terjadi konflik horisontal dengan keluarga, tetangga, rekan kerja, dll maka hubungan kita sering terputus. Saya menggambarkan hubungan yang terputus itu dengan gambaran “membangun jembatan”. Jujur saja kita semua pernah mengalami apa yang disebut membangun jembatan dan menghancurkan jembatan. Menghancurkan jembatan terjadi saat kita memutuskan hubungan dan membangun jembatan adalah ketika berusaha membangun hubungan atau membangun kembali hubungan. Dalam kenyataannya seringkali terjadi beberapa kemungkinan:

KITA MEMBIARKAN JEMBATAN ITU HANCUR. Kita tidak berniat membangun jembatan hubungan karena kita merasa bahwa kita tidak lagi memiliki alasan untuk berhubungan dengan orang tersebut. Sebenarnya memang bisa saja karena satu dan lain hal kita tidak lagi berurusan dengan orang-orang tertentu. Namun dalam hal ini alasan yang telah dikemukakan di atas lebih mengandung kemarahan ketimbang kemungkinan lainnya. Prinsip ‘membiarkan jembatan itu hancur’ hanya akan membuat kita tidak dapat mengampuni orang lain dan kita membiarkan diri kita atau bahkan memelihara hidup kita tetap di dalam kemarahan (kita tidak merasa marah karena kemarahan itu lambat laut terpendam dan sebenarnya tidak hilang, tetapi bila terpicu ia akan muncul kembali).

KITA RAGU-RAGU MEMBANGUN JEMBATAN. Kita ingin membangun jembatan tetapi kita ragu-ragu karena: a. Bisa saja saya bangun dari seberang sini tetapi dia tidak mau membangun dari seberang sana; b. Bisa saja saya bangun dari dari seberang sini tetapi nanti malah dia hancurkan kembali. Niat membangun memang ada tetapi masih bergantung pada orang lain. Memang tidak sedikit orang yang berada di posisi ini. Bagi mereka upaya harus dimulai dari kedua belah pihak maka upaya membangun hubungan yang retak akan berhasil. Tetapi bila kita berada pada posisi ini, sekalipun kita sudah berniat, maka kita tidak ubahnya tetap berada pada posisi 1 yang membiarkan jembatan itu tetap hancur.

KITA MEMBANGUN JEMBATAN. Resiko dari membangun jembatan sudah dikemukakan pada posisi 2. Membangun jembatan memang membutuhkan biaya yang besar yang mencakup: mau rugi, mau merendahkan diri, mau menyangkal diri, ketulusan, memiliki kasih yang tak menuntut balas. Apapun resikonya baik jembatan dihancurkan kembali oleh orang yang kita ajak berdamai, atau dia membiarkannya, atau malah ditanggapinya dengan positif, pada prinsipnya kita harus tetap membangun jembatan itu lagi. Membangun jembatan memang tidak selamanya mendapat tanggapan positif dari seberang tetapi bukan berarti kita berhenti dan tidak ada kata sia-sia untuk orang yang hadir untuk membawa damai. Persoalannya sekarang bukanlah soal ‘mampu’ atau ‘tidak mampu’ tetapi ‘mau’ atau ‘tidak’. Mungkin sekarang kita sedang dilanda hal yang tidak menyenangkan dari sesama kita. Untuk menegur, mengkritisi dan mengingatkan memang tetap harus kita lakukan, tetapi itu tidak menghalangi kita untuk tetap membangun jembatan hubungan dengannya.

Pdt. Daniel Zacharias, MTh.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: