Oleh: sinodegko | November 15, 2007

Mengapa Kita Mau Menaati Allah?

Apabila ini adalah pertanyaan wawancara maka ada orang yang mengatakan:Saya ingin taat supaya hidup saya diberkati.

Saya ingin taat karena saya takut Tuhan.
Saya ingin taat karena tidak mau masuk neraka.

Saya ingin taat karena saya kan pejabat gereja nanti apa kata dunia?
Saya ingin taat karena saya pimpinan komsel jadi kan saya perlu memberi contoh pelaksanaannya kepada orang-orang yang saya pimpin.

Saya ingin taat karena saya setuju dengan firman Allah yang dapat menolong saya menjalani hidup.

Semua jawaban-jawaban tersebut rasa-rasanya sudah mewakili jawaban-jawaban kebanyakan orang percaya. Tetapi belum ada jawaban yang benar-benar yang merupakan jawaban hakiki. Jawaban-jawaban di atas adalah jawaban-jawaban yang masih demi diri dan demi orang lain belum berpusat pada Allah.

Ada 3 ayat (walau masih ada di bagian lain di Alkitab) yang dapat memberi jawab untuk pertanyaan di atas:

Yohanes 14:15:
“Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku”

Yohanes 14:21:
“Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Yohanes 14:23:
“Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia”.

Ketiga ayat diatas bernafaskan hal yang sama: JIKA KITA MENGASIHI ALLAH MAKA KITA AKAN MENURUTI ATAU BERPEGANG PADA FIRMAN DAN PERINTAH ALLAH. Dengan kata lain bila pertanyaan di atas datang kembali kepada kita: “Mengapa Kita Menaati Allah” jawabannya adalah: karena kita MENGASIHI ALLAH.

Orang yang mengatakan bahwa ia mengasihi Allah maka ia harus membuktikannya. Mengasihi Allah menurut Markus 12:30: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu”, adalah bicara mengentai KETAATAN HATI, KETAATAN JIWA, KETAATAN AKAL BUDI, DAN KETAATAN PERBUATAN kepada ALLAH.

Jadi siapakah orang yang mengasihi Allah itu? Orang yang kerja mati-matian bagi pelayanan? Orang yang berdoa 4-5 jam sehari? Orang yang berkotbah keliling negeri? Orang yang berjabatan gerejawi? Bukan: ORANG YANG MENGASIHI ALLAH adalah ORANG YANG MELAKUKAN FIRMANNYA DAN MENURUTI ATAU MENAATINYA dengan segenap hatinya.

Jadilah orang yang bisa membuktikan kasih-Nya kepada Kristus melalui ketaatan-Nya.

Daniel Zacharias

Oleh: sinodegko | November 9, 2007

Mengerjakan Pekerjaan Allah

Pekerjaan merupakan hal yang agak langka untuk didapatkan akhir-akhir ini di Negara ini. Orang dapat melakukan apa saja demi mendapatkan pekerjaan. Bahkan dalam “ladang Tuhan” sendiri, banyak orang yang sulit mendapat “pekerjaan (Tuhan)”. Tidak heran ada para hamba Tuhan yang bekerja di salah satu “ladang Tuhan” terpaksa harus pindah ke “ladang Tuhan” lainnya karena tidak mendapatkan “hasil yang memadai” dari “pekerjaan (Tuhan)” di tempat tersebut. Saudara bingung dengan hal ini?
Kita sering mendengar istilah “pekerjaan Tuhan”. Para Pendeta, Gembala, Penatua, Majelis, dipanggil dan dipakai Tuhan untuk melakukan pekerjaan Tuhan penuh waktu (full time) di gereja. Kita bersyukur untuk hal itu. Kita juga bersyukur untuk kaum awam (jemaat biasa) yang walaupun tidak bekerja di gereja tetapi di sekuler memandang pekerjaan mereka pun sebagai “pekerjaan Tuhan”. Tetapi ada bahaya yang ingin Yesus ingatkan bagi kita tentang pekerjaan Tuhan tersebut.
Yesus berkata,”…sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang” (Yoh 6:26). Ada banyak orang – jujur saja – mengikut Yesus, mencari Yesus, terlibat dalam pekerjaan Tuhan, bukan karena percaya sepenuhnya kepada Yesus tetapi agar keinginan jasmaninya terpuaskan. Mereka hanya ingin makan dan kenyang bahkan kenyang dengan kekayaan. Pekerjaan Tuhan, pelayanan, dianggap sebagai sumber pendapatan dan sumber keuangan. Tidaklah salah bila kita hidup dari pemberitaan kita (1 Kor 9:14). Tetapi adalah salah bila kita memanfaatkan pekerjaan Tuhan, pelayanan, gereja, sebagai alat untuk mengenyangkan diri. Kita keliru bila membangun karir, prestasi dan prestise melalui pekerjaan Tuhan. Kita melakukan pekerjaan Tuhan bukan karena kita ingin mendapatkan upah tetapi karena kita sudah lebih dahulu diupah. Bila kita mempunyai pemahaman yang benar tentang pelayanan, maka dengan sendirinya berkat-berkat itu akan mengalir. Alkitab mengingatkan, Allah-lah yang memberikan kepada kita suatu tempat yang spesial pada tubuh Kristus, seperti yang dikehendaki-Nya (1 Kor 12:18). Semuanya bermula dari Allah dan untuk Allah.
Karena itu Yesus mengingatkan, “Bekerjalah bukan untuk makanan yang dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal…” (Yoh 6:27). Dan orang banyak itu bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” (Yoh 6:28). Rupanya tidak semua pekerjaan – yang tampaknya rohani itu dan kita sebut pekerjaan Tuhan – dikehendaki oleh Allah. Sebagai gereja, baik secara pribadi maupun persekutuan, hendaklah pertanyaan ini juga menjadi pertanyaan perenungan kita sepanjang sejarah gereja agar gereja tidak kehilangan kuasanya sebagai garam dan terang di dunia ini.
Lalu apa yang harus kita perbuat supaya kita mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah? Firman Tuhan memberi jawab kepada kita:

1. Percaya kepada Dia yang telah diutus Allah (Yoh 6:29)
Gereja yang hanya mempercayai Yesus dengan mulutnya saja namun hatinya menjauh adalah gereja yang tidak mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Pemberitaan dan praktek yang hidup dalam gereja harus dipenuhi dengan kasih, kuasa dan ke-benaran Yesus sebagai Kepala Gereja.

2. Jangan ada yang hilang tetapi setiap orang beroleh hidup yang kekal (Yoh 6 : 39-40)
Gereja yang tidak memfokuskan diri untuk mencari orang-orang yang terhilang dan ti-dak memberitakan tentang keselamatan kekal adalah gereja yang tidak mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Gereja hendaknya jangan hanya sibuk dengan posisi dan jabatan, doktrin, dogma, peraturan-peraturan. Pusatkan perhatian pada jiwa-jiwa yang terhilang dan terancam binasa kekal. Yesus berkata, “Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mat 9:13).

3. Pengudusan (1 Tes 4:3)
Gereja yang tidak memelihara kekudusan tetapi kompromi dengan dosa adalah gereja yang tidak mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Gereja harus berani me-nyatakan dosa adalah dosa. Hal-hal yang membuat sebagian besar bangsa Israel tewas di padang gurun dan tidak dapat memasuki tanah Kanaan yang berkelimpahan adalah karena mereka bermain-main dengan dosa. Mereka menginginkan hal-hal yang jahat (nafsu rakus), menyembah berhala (mengandalkan diri sendiri, segala bentuk keterikatan dengan hal-hal duniawi), percabulan (baik melalui pikiran, perkataan dan tindakan), mencobai Tuhan (melawan Allah dan Musa) – 1 Kor 10:1-9. Yesus memohon kepada Bapa agar gereja dikuduskan dalam kebenaran dengan cara terus taat dan setia melakukan firman Tuhan (Yoh 17:17)

4. Mempersatukan segala sesuatu di dalam Kristus sebagai Kepala (Ef 1 : 9-10).
Gereja yang tidak mengusahakan persatuan tetapi perpecahan bukanlah gereja yang mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah. “Supaya semua menjadi satu” adalah doa Yesus sendiri, yang harus dijawab gereja supaya dunia percaya bahwa Yesus diutus oleh Allah Bapa (Yoh 17:21).

5. Mengucap syukur dalam segala hal (1 Tes 5 : 18 ).
Gereja yang tidak mampu mengucap syukur bukanlah gereja yang mengerjakan pe-kerjaan yang dikehendaki Allah. Persungutan merupakan salah satu dosa bangsa Israel sehingga mereka tidak layak masuk tanah Kanaan. Tanah Kanaan adalah suatu keadaan yang menggambarkan kehidupan yang penuh dengan kelimpahan dan berkat-berkat sorgawi. (1 Kor 10:10). Tantangan yang harus dihadapi gereja sangatlah banyak, baik dari luar maupun dari dalam. Tetapi itu bukanlah alasan bagi gereja untuk bersungut. Mengucap syukurlah dalam segala hal, karena melalui semua tantangan itu Allah dapat mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (Roma 8:28)

6. Berbuat baik ( 1 Pet 2:15)
Gereja adalah pendatang dan perantau di dunia ini. Dengan memiliki cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa ini, kita membungkemkan kepicikan orang-orang bodoh, yang senang memfitnah gereja. Gereja tidak melawan mereka dengan pedang dan kekerasan tetapi dengan perbuatan baik yang memuliakan Allah.

Gereja harus memperhatikan dengan saksama bagaimana dia hidup di tengah-tengah bangsa ini. Kita semua harus mempergunakan waktu yang ada untuk benar-benar mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah. Siapa yang tidak mengerti kehendak Tuhan disamakan dengan orang bodoh (Ef 5:15-17).

Paulus khusus berdoa untuk jemaat di Kolose (Kol 1:9-12) supaya mereka menerima segala hikmat dan pengertian yang benar untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sem-purna. Karena dengan mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, dan mengerjakan kehendak Tuhan itu, jemaat akan:

 Hidup layak di hadapan-Nya
 Berkenan kepada-Nya dalam segala hal
 Memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik
 Bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah
 Dikuatkan dengan segala kekuatan-Nya untuk menanggung segala sesuatu
 Mendapat bagian dalam kerajaan terang

Pada akhirnya saya mengingatkan kita akan perkataan firman Allah dalam I Yoh 2:17: “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya”. Tunggu apa lagi? Mari mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki-Nya! Tuhan Yesus memberkati usaha kita untuk mengerti kehendak Tuhan dan mengerjakannya.


Pdt. Nus M. Liur, M.Th
Ketua Umum Sinode
GEREJA KRISTEN OIKOUMENE di Indonesia (GKO)

Oleh: sinodegko | November 6, 2007

Treasures

gko.jpg

Satu-persatu diambil-Nya dari padaku,
Semua perkara yang paling kuhargai,
Sampai tanganku menjadi hampa;
Setiap mainan yang berkilau sudah hilang

Dan aku berjalan di jalan-jalan raya bumi, berduka,
Dalam pakaian compang-camping dan kemiskinanku
Sampai aku mendengar suara-Nya mengundang,
“Angkatlah tangan-tangan yang hampa itu kepada-Ku!”

Maka aku mengankat tanganku ke Surga,
Dan Ia mengisinya dari tempat penyimpanan
Dari kekayaan-Nya sendiri yang luar biasa
Sampai tangan-tanganku tidak mampu menampung lagi

Dan pada akhirnya aku mengerti
Dengan pikiranku yang bodoh dan tumpul
Bahwa Allah tidak DAPAT menuangkan kekayaan-Nya
Ke dalam tangan-tangan yang sudah penuh

Martha Snell Nicholson, “Treasure,” Ivory Palaces (Wilmington, Calif.: Martha Snell Nicholson, 1946), hlm. 67, dikutip kembali oleh C. R. Swindoll dalam Daud: Pria Penuh Gairah dan Terpilih (Bandung: Cipta Olah Pustaka, 2000), hlm. 237.

Oleh: sinodegko | Oktober 20, 2007

GEREJA KRISTEN OIKOUMENE di Indonesia (GKO)

gko.jpg

Biarlah kita semua merenungkan lagu ini …

NKB 111:1 – GEREJA BAGAI BAHTERA
Gereja bagai bahtera di laut yang seram
Mengarahkan haluannya ke pantai seberang
Mengamuklah samudera dan badai menderu
Gelombang zaman menghempas, yang sulit ditempuh
Penumpang pun bertanyalah selagi berjerih
Betapa jauh, dimanakah labuhan abadi?

Refrein
Tuhan tolonglah!
Tuhan tolonglah!
Tanpa Dikau semua binasa kelak
Ya Tuhan tolonglah!

Gereja bagai bahtera pun suka berhenti
Tak menempuh samudera, tak ingin berjerih
Dan hanya masa jayanya selalu dikenang
Tak ingat akan dunia yang hampir tenggelam!
Gereja yang tak bertekun di dalam tugasnya
Tentunya oleh Tuhan pun tak diberi berkah!

Gereja bagai bahtera diatur awaknya
Setiap orang bekerja menurut tugasnya
Semua satu padulah, setia bertekun
Demi tujuan tunggalnya yang harus ditempuh
Roh Allah yang menyatukan, membina, membentuk
Di dalam kasih dan iman dan harap yang teguh

Gereja bagai bahtera muatannya penuh
Beraneka manusia yang suka mengeluh
Yang hanya ikut maunya, mengkritik dan sok tahu
Sehingga bandar tujuannya menjadi makin jauh
Tetapi bila umat-Nya sedia mendengar
Tentulah Tuhan memberi petunjuk yang benar

Gereja bagai bahtera di laut yang seram
Mengarahkan haluannya ke pantai seberang
Hai ‘kau yang takut dan resah, ‘kau tak sendirian
Teman sejalan banyaklah dan Tuhan di depan!
Bersama-sama majulah, bertahan berteguh;
Tujuan akhir adalah labuhan Tuhanmu!

Kategori